Wednesday, December 23, 2020

Mayoritas orang Indonesia tidak yakin tentang vaksinasi COVID-19, temuan survei


Seputardalamberita:
Mayoritas orang Indonesia ragu untuk mendapatkan vaksin COVID-19 di tengah kekhawatiran yang terus-menerus atas keamanan dan kemanjuran vaksin virus korona, sebuah survei oleh Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) menemukan. Survei nasional, yang dilakukan antara 16 dan 19 Desember dan jajak pendapat 1.202 orang, menemukan bahwa hanya 37 persen responden yang bersedia diinokulasi 

begitu vaksin virus corona tersedia untuk penggunaan publik. Sebaliknya, 40 persen responden masih belum yakin apakah akan mendapatkan suntikan vaksin, sedangkan 17 persen sisanya menyatakan tidak setuju dengan program vaksinasi. Manajer kebijakan publik SMRC Tati Wardi mengatakan persentase 

responden yang bersedia divaksinasi telah turun secara signifikan dari yang tercatat dalam penelitian sebelumnya. “Menurut survei pekan lalu, mereka yang mau mengikuti program vaksinasi mencapai 54 persen, tapi sekarang sudah turun menjadi hanya 37 persen,” katanya saat diskusi online, Selasa. Laporan 

tersebut juga menunjukkan bahwa 23 persen responden meragukan keamanan vaksin, sementara 56 persen yakin bahwa vaksin tidak akan menimbulkan bahaya kesehatan. 20 persen sisanya tetap ragu-ragu tentang masalah ini. Tati mengatakan, meski persentase responden yang yakin dengan keamanan vaksin lebih 

tinggi dibandingkan dengan responden yang berpandangan sebaliknya, namun temuan terkini menunjukkan adanya penurunan kepercayaan masyarakat. “Survei nasional kami awal bulan ini menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap vaksin mencapai 66 persen,” katanya. “Oleh karena itu, 

angka terbaru - 56 persen - menunjukkan penurunan [kepercayaan publik].” Dia meminta pemerintah untuk mengungkapkan informasi akurat mengenai kemanjuran dan keamanan vaksin COVID-19 untuk memastikan kepercayaan publik terhadap upaya inokulasi. Strategi komunikasi publik yang efektif di 

pihak pemerintah sangat penting untuk meningkatkan pemahaman publik tentang manfaat inti dari vaksin COVID-19, mengingat saluran media sosial sudah penuh dengan klaim yang tidak berdasar terhadap vaksin tersebut, menurut Tati. Dia menambahkan bahwa strategi semacam itu juga harus 

melibatkan keterlibatan otoritas kesehatan secara konstan, karena survei terbaru mengungkapkan bahwa 71,5 persen responden memandang dokter sebagai sumber informasi paling tepercaya terkait mitigasi pandemi.

0 comments:

Post a Comment