Tuesday, December 1, 2020

Gugus tugas COVID-19 melakukan sinkronisasi data saat wilayah menemukan ketidaksesuaian


Seputardalamberita:
Juru bicara satuan tugas COVID-19 nasional Wiku Adisasmito mengakui ada ketidaksesuaian data antara pemerintah pusat dan daerah, dan pemerintah pusat sedang melakukan sinkronisasi data. “Kami sedang melakukan sinkronisasi data antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Ini karena banyaknya data 

yang harus kami kumpulkan dan validasi serta butuh waktu untuk memprosesnya, ”kata Wiku dalam jumpa pers online, Selasa. Ia mengatakan, pemerintah saat ini sedang menyempurnakan data agar lebih konsisten dalam memantau perkembangan COVID-19 dan mengambil respons kebijakan yang terukur. “

Kementerian Kesehatan saat ini sedang berkoordinasi dengan pemerintah daerah [sinkronisasi data]. Kami mendesak pemerintah daerah untuk menghubungi Kementerian Kesehatan untuk melakukan sinkronisasi data agar dapat digunakan sebagai alat navigasi [untuk kebijakan COVID-19], ”kata Wiku. Namun, Wiku tidak menyebut nama daerah yang melaporkan adanya ketidaksesuaian data tersebut. Sebelumnya, 

Pemprov Jawa Tengah menuding Satgas Nasional COVID-19 melakukan kesalahan dalam menghitung positif kasus COVID-19 di provinsi tersebut, sehingga membengkak menjadi peningkatan tertinggi di antara provinsi lain pada Minggu. Menurut satuan tugas, Jawa Tengah memiliki hingga 2.036 kasus AGENDOMINO

berita pada Minggu. Namun menurut data Jateng, hanya ada 844 kasus baru pada hari itu. “Ini merupakan kejutan bagi kita semua. Rilis menyebutkan, Jawa Tengah memiliki jumlah tertinggi dengan 2.036 kasus baru pada Minggu. Ini jauh dari angka kami sendiri, di mana kami hanya menemukan 844 kasus baru, ”kata Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah Yulianto Prabowo dalam keterangan 

tertulisnya, Senin. Dia mengatakan, Pemprov menemukan hingga 519 duplikasi data dalam rilis pemerintah pusat. “Kami juga menemukan ada 75 kasus yang diterbitkan ulang dari minggu sebelumnya,” ujarnya. Ia mengatakan, duplikasi data lain terjadi di Kabupaten Kendal. Menurut data 

pemerintah pusat, nama pasien ditulis hingga lima kali. Ada juga contoh kasus lama lainnya yang dipublikasikan ulang dalam siaran pers gugus tugas nasional pada hari Minggu. Beberapa data berasal dari Juni. “Dari data Satgas Nasional 2.036 kasus [di Jawa Tengah], banyak yang mubazir. Beberapa 

kasusnya juga sudah lama dan sudah terbit beberapa bulan sebelumnya tapi entah bagaimana sudah keluar lagi kemarin [Minggu], ”kata Yulianto. Ia mengatakan, Jateng telah bekerja sama dengan Satgas Nasional untuk mengoreksi data agar tidak menimbulkan kepanikan di masyarakat.

0 comments:

Post a Comment