Monday, November 30, 2020

Kementerian mempertimbangkan pensiunan pabrik batu bara Suralaya raksasa


Seputardalamberita:
Pemerintah sedang mempertimbangkan untuk menutup pembangkit listrik tenaga batu bara (PLTU) Suralaya yang sudah tua di Cilegon, Banten, dan menggantinya dengan energi hijau, karena Indonesia mengejar komitmennya yang telah lama tertunda untuk mengurangi emisi karbon dioksida. Dirjen energi 

terbarukan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang baru diangkat, Dadan Kusdiana, mengatakan pada 16 November bahwa pihaknya sedang melakukan studi internal untuk mengganti Suralaya dengan pembangkit listrik tenaga surya yang dilengkapi baterai (PLTS). Menambahkan baterai ke pembangkit tenaga surya membuatnya lebih mahal tetapi memungkinkannya menyediakan listrik 24 

jam dari matahari, yang sebaliknya merupakan sumber energi yang terputus-putus. “[Suralaya] sudah berumur 35 tahun. Kami sedang melihat apakah itu harus dibongkar dan diganti dengan pembangkit listrik tenaga surya skala utilitas baru, dengan baterai, jadi tidak akan ada masalah intermittency, "katanya AGENDOMINO

kepada anggota parlemen pada audiensi publik di Jakarta. Pembangkit listrik Suralaya 3.400 megawatt terdiri dari tujuh unit yang mulai beroperasi antara 1984 dan 1997. Pembangkit milik PT Indonesia Power, anak perusahaan raksasa listrik milik negara, PLN, merupakan salah satu pembangkit listrik tenaga batu bara terbesar di Asia Tenggara. Suralaya juga merupakan yang terbesar di antara pembangkit listrik tenaga 

batu bara lain senilai 5.655 MW yang berusia di atas 20 tahun yang rencananya akan diganti oleh Kementerian Energi dengan pembangkit listrik tenaga hijau dalam mengejar target energi terbarukan Indonesia. Berdasarkan peraturan yang berlaku, Indonesia, penandatangan Perjanjian Paris, menargetkan 

untuk mencapai 23 persen bauran energi hijau pada 2025, namun tahun lalu negara tersebut hanya mencapai 9,15 persen. Banyak studi memproyeksikan bahwa, dengan kecepatan saat ini, Indonesia akan meleset dari target. Sementara itu, 17,5 persen dari kapasitas listrik Indonesia seharusnya berasal 

dari sumber energi hijau pada 2019, namun tahun itu baru mencapai 12,36 persen, menurut data kementerian energi. Indonesia juga telah berjanji untuk membuat tenaga surya berkontribusi 5,7 persen untuk listrik negara pada tahun 2025, namun tenaga surya hanya berkontribusi 0,1 persen pada tahun 2019.

0 comments:

Post a Comment