Wednesday, December 30, 2020

Unpad, Bio Farma bekerja sama dalam dua penelitian calon vaksin COVID-19


Seputardalamberita:
Tim peneliti gabungan Universitas Padjadjaran (Unpad) dan personel perusahaan farmasi milik negara PT Bio Farma sedang meneliti dua calon vaksin COVID-19. Penelitian tersebut diharapkan selesai dalam tiga tahun ke depan. Manajer integrasi proyek untuk penelitian dan pengembangan Bio Farma, Neni Nuraini, 

mengatakan vaksin kandidat sedang dikembangkan untuk mengantisipasi situasi pandemi lain di masa depan. Penelitian tersebut bertujuan untuk mengembangkan dua kandidat vaksin. Yang pertama adalah vaksin rekombinan protein berbasis gandum, sedangkan yang kedua didanai oleh Dana Ilmu Pengetahuan 

Indonesia (DIPI), adalah vaksin rekombinan berbasis peptida. Vaksin berbahan dasar gandum ditargetkan selesai pada 2022, sedangkan vaksin berbahan dasar peptida ditargetkan selesai pada 2023. "Mudah-mudahan saat itu sudah menjadi calon prototipe vaksin," kata Neni, seperti diberitakan tempo.co, Selasa, 

menambahkan bahwa penelitian baru itu terpisah dari vaksin Sinovac yang dikembangkan Cina. “Riset pengembangan vaksin ini merupakan alternatif dari berbagai platform vaksin Merah Putih yang sedang disiapkan,” tambahnya. Meneliti alternatif vaksin, lanjut Neni, akan memberikan lebih banyak peluang 

untuk pengembangan vaksin yang sukses dibandingkan dengan hanya bergantung pada satu kandidat vaksin. Dalam laporan sebelumnya, Koordinator Tim Riset Diagnostik COVID-19 Unpad Muhammad Yusuf mengatakan, saat ini mereka sedang meneliti tiga kandidat vaksin. Keduanya, bekerja sama 

dengan Bio Farma, adalah vaksin kandidat rekombinan dan berbasis liposom peptida. Sedangkan kandidat ketiga, bermitra dengan perusahaan swasta, merupakan vaksin pasif yang dibuat dari antibodi ayam. “Dari ketiga calon vaksin tersebut, vaksin pasif memiliki peluang terbesar untuk uji coba 

praklinik sedangkan dua lainnya masih dalam tahap pengembangan,” kata Yusuf, Selasa. Sekelompok ilmuwan dari New and Emerging Respiratory Virus Threats Advisory Group (NERVTAG) Inggris menemukan varian baru virus corona yang telah menyebar dengan cepat di Inggris pada 21 Desember. 

Varian baru tersebut dilaporkan membawa mutasi yang membuat anak-anak lebih rentan terhadap virus corona. infeksi dibandingkan dengan jenis sebelumnya. Manajer tim peneliti vaksin Sinovac dari Unpad, Eddy Fadlyana mengatakan belum banyak laporan penemuan mutasi virus corona di Indonesia. Saat ini, penemuan mutasi virus corona di seluruh dunia hanya sedikit ditemukan. Kami perkirakan vaksin tersebut masih akan efektif dalam dua atau tiga tahun, ”kata Eddy, Selasa.

0 comments:

Post a Comment