Saturday, December 12, 2020

Salatiga melaporkan kematian pertama petugas kesehatan karena COVID-19


Seputardalamberita:
Pemerintah Salatiga di Jawa Tengah telah melaporkan kematian seorang petugas kesehatan terkait COVID-19 yang pertama. Seorang perawat dari Rumah Sakit Umum Salatiga meninggal karena penyakit pada hari Kamis, menurut kepala Dinas Kesehatan Salatiga Siti Zuraida. Secara terpisah, Wali Kota 

Salatiga Yuliyanto mengatakan rumah sakit tetap beroperasi seperti biasa meski telah meninggal. “Kami sudah melakukan pelacakan kontak antara rekan kerja perawat, anggota keluarga, serta orang lain yang dekat dengan almarhum,” kata Yuliyanto. Dia juga mengkritik masyarakat karena kurangnya disiplin 

mengikuti protokol kesehatan, menambahkan bahwa dia masih melihat orang-orang berjalan tanpa masker. “Ada peningkatan signifikan pada pasien COVID-19 di Salatiga. Jika kita tidak mencegah [lebih banyak infeksi] dengan mengikuti protokol kesehatan, kota ini akan segera masuk dalam kategori zona AGENDOMINO

merah. Pada hari Kamis, Kementerian Kesehatan mengumumkan 6.033 kasus COVID-19 baru yang dikonfirmasi, sehingga jumlah total infeksi secara nasional menjadi 598.933. Data kementerian mengungkapkan bahwa 165 lebih orang telah meninggal karena penyakit tersebut, sehingga jumlah 

kematian menjadi 18.336. Jumlah pasien yang pulih juga meningkat menjadi 491.975. Kementerian melaporkan bahwa 32.662 orang diuji pada hari Kamis, sehingga jumlah total orang yang diuji menjadi 4,17 juta. Ibu kota juga mencatat 1.180 kasus baru yang dikonfirmasi, sehingga totalnya menjadi 149.018. 

Sedangkan Jawa Tengah melaporkan 998 kasus baru, Jawa Barat 960, Jawa Timur 796, Sulawesi Selatan 219 dan Kalimantan Tengah 205. Pekan lalu, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengungkapkan ada 342 tenaga kesehatan yang terdiri 192 dokter, 14 dokter gigi dan 136. perawat, meninggal saat menjalankan 

tugas mereka pada Des. 5. Perwakilan asosiasi untuk unit advokasi dan hubungan eksternal, Eka Mulyana, menegaskan bahwa pandemi itu nyata dan mematikan, bukan hoax seperti yang diklaim oleh para ahli 

teori konspirasi. "Kami berharap orang tidak membahayakan nyawa orang lain [dengan percaya pada teori konspirasi]," kata Eka seperti dikutip antaranews.com, Kamis.

0 comments:

Post a Comment