Monday, December 21, 2020

Harimau Sumatera kembali ke alam liar setelah pulih dari cedera akibat jerat


Seputardalamberita:
Seekor harimau Sumatera betina yang diselamatkan oleh pihak berwenang pada Maret setelah terjerat perangkap kawat dikembalikan ke alam liar pada Minggu di area restorasi habitat di Riau. Sebelumnya, tim ahli dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta melakukan studi kelayakan habitat untuk 

menentukan lokasi pelepasan harimau, kata Corina, kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau Suharyono. “Tim tersebut dipimpin oleh Prof. Satyawan Pudyatmoko dari Fakultas Kehutanan UGM,” ujarnya, Senin seperti dilansir kompas.com. Dia menjelaskan, Corina ditemukan 

terjebak dalam perangkap kawat nilon pada 26 Maret lalu di perkebunan pulp milik PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) Estate Meranti di Kabupaten Pelalawan. “Tenaga medis kami berhasil membebaskan Corina sehari kemudian. Kaki kanan depannya terluka parah akibat jerat,” kata Suharyono. Ia 

memperkirakan Corina telah terperangkap selama tiga hari sebelum petugas lapangan PT RAPP menemukannya di pinggiran perkebunan. Harimau tersebut kemudian dipindahkan ke Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera (PRHSD) Dharmasraya di Sumatera Barat untuk menjalani perawatan intensif. “Hasil AGENDOMINO

lab menunjukkan bahwa Corina mengalami anemia normokromik makrositik non-regenerasi akibat defisiensi nutrisi,” kata Suharyono. "Luka dalam dan lebar juga ditemukan di kakinya. Untung uratnya masih utuh," tambahnya. Setelah menjalani perawatan intensif di kandang karantina, Corina dipindahkan ke kandang agar para ahli bisa mengamati perilakunya serta kemampuannya dalam menangkap mangsa. 

“Setelah sembilan bulan perawatan, Corina pulih total. Berat badannya pun meningkat dari 77,8 kilogram menjadi 89 kilogram,” imbuhnya. Corina dipindahkan ke kandang habituasi di lokasi pelepasliaran, Senin lalu. Pihak berwenang kemudian memasang kalung pelacak GPS dengan pemancar 

satelit iridium padanya pada 17 Desember untuk mengamati dan memetakan pergerakannya. Baterai di kerahnya bisa bertahan hingga dua tahun dan secara otomatis diatur untuk dibuka pada Oktober 2022. 

Kerah tersebut juga dilengkapi dengan pemancar radio sehingga kami masih dapat memantau pergerakan Corina menggunakan sistem triangulasi penerima pelacakan radio saat jangkauan satelit GPS. terbatas, "kata Suharyono.

0 comments:

Post a Comment