Saturday, November 7, 2020

TNI diduga menyerang, menangkap warga sipil setelah terjadi perselisihan lalu lintas, yang menyebabkan satu kematian


Seputardalamberita:
Tentara Indonesia (TNI) dilaporkan menyerang dan menangkap warga sipil di asrama dan rumah terdekat di Jayapura setelah kecelakaan lalu lintas dan pertengkaran antara dua penghuni asrama dan seorang tentara. Direktur Persatuan Pengacara Hak Asasi Manusia Papua (PAHAM Papua) Gustav Kawer 

mengatakan tindakan aparat TNI tersebut merupakan tindak pidana dan pelanggaran HAM, karena dilakukan di luar yurisdiksi TNI untuk menangkap dan memukuli orang. Juru bicara Kodam Cenderawasih Letkol Reza Nur Patria membenarkan adanya kecelakaan lalu lintas dan penggerebekan 

tersebut, namun tidak membenarkan adanya penyerangan tersebut. “Dalam pertengkaran itu, seorang anggota [Yonif 751] diserang. Tentara kemudian menggeledah orang-orang yang bertanggung jawab atas serangan itu dan menahan lima orang untuk diinterogasi, ”katanya. Reza menambahkan, setelah dilakukan 

pemeriksaan internal di Markas Besar Yonif 751 Angkatan Darat, kelima orang tersebut dikirim ke Polres Jayapura untuk pemeriksaan lebih lanjut. “Tentara yang menjadi korban pemukulan itu juga sudah melapor ke polisi,” ujarnya. “Kalau ada anggota [TNI] yang terbukti melanggar hukum, akan dikenai 

sanksi sesuai hukum,” kata Reza. Pada Rabu malam, seorang tentara yang mengendarai sepeda motor diduga menabrak sepeda motor lain yang ditumpangi oleh Meky Suhuniap dan Olun Yoal, keduanya penghuni asrama Soloitma, di Sentani, dekat asrama. Ketiganya sempat bertengkar sebelum warga lain di AGENDOMINO

lokasi tersebut memukul tentara tersebut dan menyita sepeda motornya sebagai jaminan, sehingga tentara tersebut akan membayar kerugiannya. Menurut PAHAM Papua, pada pukul 23.00, lebih dari 50 anggota Yonif 751 di Sentani menggerebek asrama Soloitma dengan membawa senjata berupa bayonet dan pedang. Para tentara tersebut diduga memukul warga, merusak pintu dan mengambil sepeda motor warga

Salah satu warga, Demisian Kobak, 18, dilaporkan ditendang, meskipun dia mengatakan tidak terlibat dalam pertengkaran dan mengatakan kepada tentara bahwa dia sakit. Dia kemudian dibawa ke rumah sakit untuk perawatan tetapi meninggal keesokan harinya. “Seorang gadis [Demisian] terbaring sakit di tempat tidurnya ketika tentara menendangnya. Dia meninggal pada hari Kamis, ”direktur PAHAM Papua Gustav 

0 comments:

Post a Comment