Seputardalamberita:Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim telah mengizinkan beberapa siswa di daerah tertentu untuk bersekolah, antaranews.com melaporkan. Dalam kunjungannya ke Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, Nadiem mengatakan bahwa sekolah di zona hijau atau kuning boleh melakukan pengajaran tatap muka, namun keputusan akan diambil oleh komite sekolah, kepala sekolah,
dan instansi setempat. Meski siswa di zona hijau atau kuning boleh kembali bersekolah, kata Nadiem, memanfaatkan opsi ini dengan menyekolahkan anak atau tidak, itu terserah orang tua. Apalagi, kata Nadiem, sekolah harus menerapkan protokol kesehatan dan keselamatan yang ketat. Berkenaan dengan sekolah kejuruan, menteri mengatakan mata pelajaran praktis mungkin diajarkan secara tatap muka.
Nadiem menyampaikan keprihatinannya kepada siswa yang tidak memiliki perangkat digital atau akses internet, ia khawatir perkembangan pendidikan formal siswa tersebut akan terganggu. “Saya khawatir mereka tidak akan bisa belajar apa-apa dan tertinggal,” katanya. Dengan pemikiran tersebut, ia mengajak AGENDOMINO
siswa untuk belajar di sekolah, terutama yang tinggal di zona hijau atau kuning, seperti di Kabupaten Rote Ndao. Lebih dari 60 juta siswa di seluruh Indonesia dipaksa belajar dari rumah selama pandemi COVID-19. Meskipun pembelajaran online tampaknya menjadi cara teraman dan paling nyaman bagi siswa untuk melanjutkan pendidikan selama pandemi, hal itu juga menghadirkan hambatan baru, terutama dengan
akses yang tidak merata ke teknologi dan metode pengajaran online yang tidak memadai. Sebuah survei yang diluncurkan pada bulan Juli oleh Lembaga Penelitian SMERU menunjukkan bahwa, meskipun guru di kota-kota besar di Jawa memiliki fasilitas yang memadai untuk mengajar siswanya secara online, guru
di desa, terutama di luar Jawa, perlu mengunjungi rumah siswanya untuk memberi dan mengumpulkan pekerjaan rumah karena kurangnya akses ke internet dan perangkat digital. “Siswa [tanpa akses teknologi] kebanyakan adalah siswa sekolah negeri di pedesaan, terutama di luar Jawa. Mereka rawan mengalami kerugian dalam pendidikan, ”kata Florischa Ayu Tresnatri, peneliti di SMERU, dalam diskusi publik.







0 comments:
Post a Comment