Seputardalamberita:Mabes Polri membantah klaim Indonesia Corruption Watch (ICW) yang menuding pihaknya mengalokasikan dana ratusan miliar rupiah untuk mempersiapkan aksi protes terhadap UU Cipta Kerja. Juru bicara Kepolisian Nasional Insp. Jenderal Argo Yuwono membenarkan bahwa polisi telah
mengalokasikan Rp 408,8 miliar (US $ 27,85 juta) untuk peralatan personel di bawah anggaran unit kendali untuk tindakan pengamanan. Dia mengatakan, dana itu tidak dialokasikan untuk mengantisipasi serangkaian protes terhadap undang-undang baru itu, tetapi untuk pemilihan kepala daerah yang akan
datang. “[Anggaran] untuk helm, pelindung kaki, tameng dan perlengkapan lainnya. Dananya untuk pengadaan alat pengatur massa polisi di daerah-daerah yang akan menggelar Pilkada, ”kata Argo, Sabtu. Pilkada serentak dijadwalkan berlangsung di 270 daerah di seluruh Indonesia pada 9 Desember. Ia
mengimbau masyarakat tidak khawatir. tentang penggunaan anggaran polisi, mengklaim kekuatan akan menjunjung tinggi transparansi. “Badan Pemeriksa Keuangan [BPK] sedang menilai anggaran, jadi tidak ada masalah [dengan penggunaan anggaran]. Tapi sekarang ini semuanya terkait dengan protes, ”tambah
Argo. ICW sebelumnya menuduh bahwa polisi menggunakan dana tersebut untuk mempersiapkan protes massal terhadap pengesahan Undang-Undang Penciptaan Pekerjaan omnibus yang sangat kontroversial baru-baru ini. DPR dan pemerintah mengesahkan RUU itu menjadi undang-undang pada hari Senin dalam AGENDOMINO
pembahasan cepat yang menurut para kritikus cacat dan dipertanyakan secara hukum. Ribuan pengunjuk rasa, termasuk kelompok buruh dan mahasiswa, menggelar protes tiga hari dari Selasa hingga Kamis di seluruh nusantara untuk menyuarakan penentangan mereka terhadap undang-undang tersebut, yang
menurut mereka merusak hak-hak buruh dan perlindungan lingkungan. Protes memuncak pada Kamis ketika bentrokan pecah antara pengunjuk rasa dan personel keamanan, yang menyebabkan ribuan penangkapan. Mengutip laporan dari layanan pengadaan elektronik (LPSE) Polri, peneliti ICW Wana
Alamsyah mengatakan polisi melakukan pengadaan peralatan dalam jumlah besar senilai ratusan miliar rupiah pada September tahun ini. “Pada September lalu, LSPE mencatat beberapa pengadaan barang dari APBN-P untuk kebutuhan darurat, diduga sebagai antisipasi protes terhadap UU Ketenagakerjaan,” ujarnya, Kamis.







0 comments:
Post a Comment