Seputardalamberita:Raksasa listrik milik negara PLN telah membukukan kerugian triliunan rupiah sepanjang tahun ini karena permintaan energi yang lebih rendah dan nilai tukar rupiah yang lemah selama wabah COVID-19. PLN membukukan kerugian Rp 12,2 triliun (US $ 872,8 juta) pada periode Januari-September, dibandingkan
dengan laba Rp 10,8 triliun yang dicapai selama periode yang sama tahun lalu, laporan keuangan terbaru perusahaan menunjukkan. Pendapatan perseroan naik 1,4% year-on-year (yoy) menjadi Rp 212,2 triliun dalam sembilan bulan pertama tahun ini dari Rp 209,3 triliun tahun lalu. Sementara, beban turun 3,5
persen yoy menjadi Rp 223,8 triliun dari Rp 231,9 triliun pada 2019, meski angkanya masih melebihi pendapatannya. Juru bicara PLN Agung Murdifi mengatakan pada Selasa bahwa volume penjualan listrik perseroan tumbuh 0,6 persen yoy menjadi 181.638 gigawatt hour (GWh) pada kuartal ketiga.
Pertumbuhan tersebut terjadi setelah PLN memperluas basis pelanggannya sebesar 4,6 persen yoy menjadi 77,9 juta pengguna per 30 September. “Penjualan listrik yang lebih tinggi di sektor perumahan, industri pertanian dan usaha kecil dan menengah [UKM] membantu mendorong pertumbuhan penjualan yang AGENDOMINO
positif,” katanya . Pertumbuhan di sektor pertanian dan industri UKM terjadi di tengah permintaan listrik yang lebih rendah di banyak sektor lainnya, menyusul pemberlakuan pembatasan sosial skala besar (PSBB) untuk menahan virus corona.
Turunnya laba PLN juga diperburuk oleh kerugian selisih kurs sebesar Rp22,9 triliun pada sembilan bulan pertama tahun ini, berbeda dengan laba tahun lalu yang sebesar Rp 4,4 triliun karena nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar AS. PLN terutama menggunakan dana dolar untuk membayar pemasok
bahan bakar fosil dan produsen listrik independen (IPP). Meskipun ada pemulihan signifikan dari level terendah Rp 16.575 yang dicapai pada bulan Maret, rupiah tetap lemah dalam sembilan bulan pertama
tahun ini, rata-rata melayang di atas Rp 14.000 terhadap greenback. “Di tengah ketidakpastian ekonomi akibat pandemi, perseroan terus melakukan efisiensi,” tambah Agung. Untuk mengurangi biaya, PLN
telah mengurangi separuh pengeluaran insentif karyawan dan memangkas pembelian listrik IPP seminimal mungkin, seperti yang terjadi pada beberapa pembangkit listrik tenaga air di Sumatera Utara.







0 comments:
Post a Comment