Tuesday, October 20, 2020

Petugas kesehatan Tulungagung meninggal dunia setelah dua kali terjangkit COVID-19


Seputardalamberita:
Seorang petugas kesehatan di Kabupaten Tulungagung, Jawa Tengah, telah meninggal setelah tertular SARS-CoV2 untuk kedua kalinya, kata seorang pejabat satuan tugas COVID-19 setempat. Juru bicara satuan tugas COVID-19 Tulungagung Galih Nusantoro mengatakan pekerja yang diidentifikasi hanya 

sebagai TRS itu bekerja di salah satu rumah sakit di kabupaten tersebut. Korban COVID-19 berusia 52 tahun itu meninggal setelah dirawat selama dua minggu. Galih melanjutkan, TRS ditemukan positif COVID-19 dua kali antara Juli dan Oktober. "TRS adalah salah satu kasus yang dikonfirmasi yang kami 

umumkan pada 22 Juli," katanya seperti dilansir kompas.com. Setelah terjangkit virus tersebut, TRS dinyatakan sembuh pada 25 Juli, dan ia berhasil kembali bekerja sesudahnya. Namun, pada 28 September, TRS menunjukkan gejala pneumonia. Daftar pekerja bersama TRS diminta untuk mengikuti tes COVID-

19. Alhasil, TRS kembali dinyatakan positif COVID-19 pada 30 September. “TRS dirawat di RSUD Dr. Iskak namun kondisinya terus memburuk hingga dokter mengumumkan kematiannya pada Jumat [ 16], kata Galih seraya menambahkan bahwa Tulungagung telah mencatat total 443 kasus COVID-19 AGENDOMINO 

terkonfirmasi dengan empat korban jiwa sejauh ini. Di tengah perkembangan pandemi belakangan ini, Galih mendorong warga kabupaten untuk terus memakai masker, cuci tangan dan menjaga jarak fisik untuk menghentikan penularan virus. “Angka kematian [di Tulungagung] masih rendah, apalagi jika 

dibandingkan dengan angka nasional yang sudah mencapai 3,7 persen. Sementara angka kematian di Jawa Timur 4,09 persen, ”imbuhnya. Di tempat lain di Jawa Tengah, Banyumas telah menerapkan kebijakan gelang plastik warna merah muda untuk melindungi kelompok berisiko tinggi dari COVID-19. Edhi 

AGENPOKER 

Ahmadi, 67 tahun, warga Danaraja di Banyumas mengenakan gelang plastik pemberian Bupati Banyumas Achmad Husein pada Senin. Warna pink kontras dengan kulitnya. Acara tersebut secara simbolis memulai proyek percontohan untuk melindungi orang-orang dengan penyakit yang sudah ada sebelumnya yang 

membuat mereka lebih rentan terhadap COVID-19. Desa Jaga Komorbid, yang diterjemahkan secara longgar sebagai “Desa Mengurus Orang dengan Komorbiditas”, adalah program di bawah inisiatif Jogo Tonggo (Mengurus Tetangga) di Jawa Tengah.

0 comments:

Post a Comment