Seputardalamberita:Ahli epidemiologi telah menyuarakan keprihatinan atas peningkatan jumlah kasus COVID-19, yang telah menyebabkan krisis di fasilitas kesehatan setelah akhir pekan yang panjang berturut-turut di negara itu yang menyebabkan mobilitas tinggi di antara orang-orang. Negara ini mencatat kenaikan terbesar satu hari
dalam tiga hari berturut-turut dari Kamis hingga Jumat. Menurut Kementerian Kesehatan, ada 9.030 COVID-19 baru pada hari-hari itu. Indonesia telah mencatat 169.195 kasus yang dikonfirmasi hingga Sabtu, dengan 7.261 kematian dan 122.802 pemulihan. Pandu Riono, seorang ahli epidemiologi dari
Universitas Indonesia, mengatakan lonjakan kasus baru-baru ini disebabkan oleh dua pekan panjang menjelang Kemerdekaan pada 17 Agustus dan Tahun Baru Islam pada 20 Agustus. Ahli epidemiologi lain dari Universitas Indonesia, Syahrizal Syarif menggemakan pernyataan Pandu yang mengatakan bahwa AGENDOMINO
COVID-19 menyebar lebih cepat dari sebelumnya. "Butuh 114 hari untuk 50.000 kasus pertama, 33 hari untuk 50.000 lainnya dan hanya 23 hari untuk 50.000 lainnya," kata Syahrizal, Jumat. “Kami memperkirakan itu bisa mencapai 500.000 pada akhir tahun atau awal tahun depan.” Dia menambahkan
bahwa sistem perawatan kesehatan negara saat ini menangani sekitar 40.000 kasus aktif di seluruh negeri. Jika jumlah kasus baru terus meningkat, bisa membebani rumah sakit. Rumah sakit di Jakarta, provinsi yang paling terpukul di mana tingkat positif mingguan sekitar 10,1 persen, telah kewalahan dengan pasien
baru sejak pihak berwenang memutuskan untuk melonggarkan pembatasan dan mengizinkan bisnis untuk melanjutkan aktivitas. Data Dinas Kesehatan Jakarta, seperti dikutip tempo.co, menunjukkan sekitar 71 persen dari 483 tempat tidur unit perawatan intensif untuk pasien COVID-19 di seluruh ibu kota telah
ditempati hingga 23 Agustus. Syahrizal memperkirakan negara akan membutuhkannya. antara 140.000 dan 150.000 tempat tidur tambahan untuk pasien baru. “Situasinya kacau dan mengkhawatirkan karena kurangnya kepatuhan terhadap protokol kesehatan. Perlu langkah serius dan berskala besar, ”kata Syahrizal.







0 comments:
Post a Comment