Wednesday, July 8, 2020

Stigma, precarity menghalangi orang Indonesia untuk dites COVID-19


Seputardalamberita:Infeksi COVID-19 tingkat tinggi di Indonesia tidak menghentikan orang di seluruh kepulauan dari menolak untuk diuji, sebagian besar karena masalah ketenagakerjaan dan rasa takut akan pengasingan, meskipun pemerintah berupaya untuk mengendalikan penyakit ini melalui peningkatan pengujian massal.

Herdayati, seorang penduduk Kampung Elektro di Penjaringan, Jakarta Utara, mengenang bagaimana beberapa tetangganya menutup diri ketika tes swab COVID-19 diadministrasikan di balai desa pada bulan Juni.

Pihak berwenang menawarkan tes reaksi rantai polimerase (PCR) di daerah itu setelah 23 warga ditemukan menderita penyakit itu. Dari sekitar 300 warga yang diundang untuk mengikuti tes, hanya 37 yang muncul.AGENDOMINO

Banyak yang enggan dites karena takut dicap dan kehilangan kesempatan untuk mencari nafkah, katanya.

Ketakutan itu dibenarkan.

Ketika identitas 23 orang yang awalnya dites positif mengidap penyakit di komunitas itu ditemukan, kepanikan menyebar dan majikan memecat beberapa tetangga Herdayati, yang bekerja sebagai buruh.

Orang-orang takut itu akan mengganggu kehidupan mereka sendiri dan kehidupan tetangga mereka. Jika saya tes positif, orang-orang kita akan terpojok." Itulah yang mereka katakan, "katanya kepada The Jakarta Post dalam sebuah wawancara baru-baru ini.

Bagi sebagian besar orang, pertimbangan ekonomi seperti hilangnya pendapatan dianggap sama pentingnya dengan kesehatan masyarakat, menurut survei bersama gerakan komunitas Lapor COVID-19 dan Lab Ketahanan Sosial Universitas Teknologi Nanyang. Survei ini mengumpulkan tanggapan 154.471 orang di Jakarta dari 29 Mei hingga 20 Juni.


Lebih dari 80 persen responden mengatakan pertimbangan ekonomi sama pentingnya dengan kesehatan masyarakat, sementara 16 persen mengatakan pertimbangan ekonomi lebih penting. Hanya 3 persen yang mengatakan kesehatan masyarakat lebih penting.

Dan sementara banyak orang menentang risiko infeksi COVID-19 agar tetap bertahan secara ekonomi (64 persen), sekitar 13 persen responden mengatakan sebaliknya.

"Yang mengkhawatirkan adalah masih ada sekelompok orang yang mau terinfeksi [untuk mendapatkan uang]," kata Sulfikar Amir, seorang sosiolog bencana di NTU di Singapura yang terlibat dalam survei, selama konferensi pers virtual pada akhir pekan.

“[Mereka bertindak] seolah-olah coronavirus hanyalah semacam tipu daya,” kata Herdayati.

0 comments:

Post a Comment