Monday, March 1, 2021

Jepang mengutuk pembunuhan pengunjuk rasa oleh pasukan keamanan Myanmar


Seputardalamberita:
Jepang pada hari Senin mengutuk penggunaan kekuatan mematikan oleh pasukan keamanan Myanmar terhadap pengunjuk rasa kudeta militer bulan lalu. Sedikitnya 18 pengunjuk rasa tewas dan lebih dari 30 luka-luka pada hari Minggu ketika amunisi dilaporkan ditembakkan ke kerumunan di setengah lusin kota 

di seluruh negeri termasuk Yangon, menurut Kantor Hak Asasi Manusia PBB. "Penggunaan kekuatan terhadap pengunjuk rasa damai tidak dapat diterima, dan kami sangat mendesak pasukan keamanan Myanmar untuk segera menghentikan kekerasan terhadap warga sipil," kata juru bicara utama pemerintah, 

Kepala Sekretaris Kabinet Katsunobu Kato, pada konferensi pers pada hari Senin. Militer Myanmar merebut kekuasaan dan mengumumkan keadaan darurat selama setahun pada 1 Februari, menahan Penasihat Negara Aung San Suu Kyi, Presiden Win Myint dan anggota lain dari Liga Nasional untuk 

Demokrasi yang berkuasa. Kudeta tersebut menyusul kemenangan telak oleh NLD dalam pemilihan umum November, yang menurut pihak militer dianggap curang. Mengenai apakah Jepang akan menjatuhkan sanksi kepada Myanmar atas kudeta militer termasuk dengan menahan bantuan keuangan, 

Kato mengatakan pemerintah "mengamati situasi dengan cermat" dan mempertimbangkan pilihannya. Sebelumnya pada hari Minggu, Indonesia mengatakan pihaknya "sangat prihatin" dengan kekerasan yang meningkat di Myanmar dan mendesak pengekangan oleh pasukan keamanan, setelah setidaknya tujuh 

orang tewas ketika polisi menindak pengunjuk rasa. "Indonesia mendesak pasukan keamanan untuk menahan diri dari penggunaan kekuatan dan menahan diri untuk menghindari korban lebih lanjut," kata kementerian luar negeri dalam sebuah pernyataan, dikutip oleh Reuters. Indonesia telah memimpin dalam 

Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) dalam upaya menyelesaikan kekacauan yang meletus di Myanmar setelah tentara merebut kekuasaan dan menahan pemimpin pemerintah terpilih Aung San Suu Kyi dan sebagian besar pimpinan partainya. Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi 

mengatakan pada hari Rabu bahwa dia telah mengadakan pembicaraan intensif dengan militer Myanmar dan perwakilan dari pemerintah terpilih yang digulingkan.

0 comments:

Post a Comment