Seputardalamberita:Ketika Indonesia mencari cara untuk membuka kembali sekolah pada bulan Januari, seorang ahli telah mengingatkan pemerintah dan masyarakat bahwa pendekatan semacam itu membawa risiko tinggi penularan COVID-19, terutama karena anak-anak tidak diprioritaskan dalam program vaksinasi
mendatang. Ketua Dewan Pendidikan Nusa Tenggara Timur Simor Riwu Kaho mengatakan bahwa program vaksinasi yang akan datang memprioritaskan penerima yang berusia antara 18 dan 59 tahun, kompas.id melaporkan pada hari Sabtu. Sementara itu, mereka yang berusia di bawah 17 tahun tidak akan AGENDOMINO
menerima vaksin COVID-19 di masa mendatang, meskipun kelompok usia inilah yang diharapkan dapat kembali bersekolah. Oleh karena itu, pemerintah harus mempertimbangkan persiapan imunitas anak menjelang sekolah dibuka kembali. Bulan lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim
mengumumkan bahwa pemerintah akan memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah, administrasi sekolah dan orang tua untuk memutuskan apakah sekolah mereka harus dibuka kembali untuk pengajaran di kelas, dengan mempertimbangkan risiko penularan COVID-19. “Pembukaan kembali sekolah bisa
dilakukan secara langsung atau bertahap sesuai kemampuan daerah masing-masing dan keputusan kepala daerahnya. Sekolah yang ingin dibuka kembali harus memenuhi checklist [persyaratan] untuk pengajaran tatap muka dan protokol kesehatan, ”kata Nadiem Makarim pada 20 November. Kebijakan tersebut sangat
berbeda dari kebijakan pembukaan kembali sekolah sebelumnya yang ditetapkan pada bulan Juni. Sebelumnya, hanya sekolah di zona hijau atau kuning yang diperbolehkan melakukan pengajaran tatap muka. Kebijakan baru memungkinkan sekolah di zona merah untuk dibuka kembali.







0 comments:
Post a Comment