Seputardalamberita:Seorang ahli telah menyatakan keprihatinannya atas resistensi publik terhadap program imunisasi COVID-19 di masa depan yang disebabkan oleh hoax seputar vaksin yang sedang dikembangkan. Penentangan bisa berdampak langsung pada program imunisasi lain di negara itu. Ahli vaksin dan internis Dirga Sakti Rambe percaya hoax seputar vaksin COVID-19 dan imunisasi secara umum berbahaya. Ia mengatakan
meski tanpa hoax, penerimaan masyarakat terhadap potensi vaksin virus corona sudah rendah. Menurut catatan Dirga sendiri berdasarkan beberapa survei, hanya 50 hingga 60 persen penduduk di Indonesia yang mau menerima vaksin. Dia melanjutkan, dampak terburuk dari hoax vaksin COVID-19 adalah masalah
yang ditimbulkannya pada program imunisasi lain, selain virus corona, di negara tersebut. “Jika masyarakat meyakini hoax, tingkat kepercayaan mereka terhadap vaksin lain, termasuk program imunisasi reguler, juga akan turun. Itu akan berbahaya. Program imunisasi rutin yang sudah berlangsung puluhan AGENDOMINO
tahun bisa terpengaruh, ”kata Dirga, Minggu, seperti dikutip terpisah, dokter anak Alvi Lavina mengatakan rendahnya partisipasi imunisasi COVID-19 bisa menambah kendala dalam menjalankan vaksinasi rutin untuk anak. , yang sudah menghadapi kemerosotan partisipasi selama pandemi karena
kekhawatiran terinfeksi virus corona. “Sejak Maret tingkat partisipasi imunisasi dasar turun 4,9 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2019. Penurunan tersebut mencapai puncaknya pada Mei yaitu 34,5 persen dibandingkan tahun lalu,” kata Alvi. Sebelumnya, menurut survei online yang dilakukan
oleh kelompok relawan LaporCOVID-19 pada September dan Oktober, hanya 31 persen dari total 2.109 responden yang menyatakan akan menerima vaksin yang dikembangkan oleh Sinovac dan Bio Farma, sedangkan 44 persen menyatakan bersedia menerima vaksin Merah Putih yang dibuat secara
lokal dan sedang dalam pengembangan. “Namun, sebagian besar responden mengatakan antara ragu-ragu dan langsung menolak menerima vaksin,” kata Irma Hidayana, peneliti kesehatan masyarakat LaporCOVID-19, pada 13 Oktober. Sementara itu, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyayangkan
banyak pihak. hoax seputar COVID-19, mulai dari keyakinan salah bahwa virus itu tidak ada hingga informasi palsu tentang vaksin.







0 comments:
Post a Comment