Sunday, October 4, 2020

Tes PCR tetap menjadi standar emas, tetapi banyak faktor yang mempengaruhi hasil


Seputardalamberita:
Sementara laporan baru-baru ini menyebut keandalan tes polymerase chain reaction (PCR) dipertanyakan, para ahli setuju bahwa tes tersebut tetap menjadi tes terbaik untuk COVID-19 tetapi mengakui bahwa berbagai faktor memengaruhi hasil. Baru-baru ini, Badan Intelijen Negara (BIN) yang keterlibatannya 

cukup signifikan dalam penanganan pandemi di Tanah Air menimbulkan pertanyaan dan kritik dari organisasi masyarakat sipil, menolak laporan majalah Tempo bahwa tes PCR-nya tidak akurat. BIN, yang telah menerima Rp 5,57 triliun dari anggaran respons COVID-19, mengatakan positif dan negatif palsu 

juga ditemukan di negara lain dan beberapa faktor memengaruhi hasil tes di antara berbagai laboratorium. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perbedaan dalam uji usap. Diantaranya adalah kondisi mesin, waktu pemeriksaan, kondisi pasien, dan kualitas alat uji," kata juru bicara lembaga tersebut Wawan AGENDOMINO

Hari Purwanto dalam keterangannya.Para ahli mengatakan kepada The Jakarta Post bahwa akan adil untuk membandingkan hasil tes jika sampel diambil pada waktu yang sama dan dikirim ke laboratorium berbeda yang memiliki pengaturan PCR yang sama. Indonesia mengoperasikan sekitar 263 laboratorium untuk 

pengujian COVID-19, dan mereka memiliki berbagai mesin dan alat penguji. Tetapi bahkan sebelum sampel mencapai laboratorium, variasi tertentu dapat memengaruhi hasil, termasuk kapan dan bagaimana sampel diambil, diangkut, dan disimpan. "Tes PCR menunjukkan hasil terbaik dalam tiga hari pertama 

AGENPOKER 

sejak timbulnya gejala - jika pasien menunjukkan gejala apa pun - karena saat itulah viral load diyakini berada pada tingkat tertinggi," kata Maria Lucia Inge Lusida, seorang profesor. mikrobiologi klinik di Universitas Airlangga (Unair). “Semakin lama periode antara onset gejala dan pelaksanaan tes, semakin 

rendah viral load dan semakin tinggi kemungkinan untuk mendapatkan hasil negatif,” tambah Inge, yang memimpin Institut Penyakit Tropis universitas. Proses pengujian PCR juga membutuhkan personel yang terlatih dengan baik, dan kelangkaan tenaga medis seperti itu telah disebutkan sebagai alasan rendahnya tingkat pengujian di Indonesia.

0 comments:

Post a Comment