Seputardalamberita:Kelompok sipil telah melaporkan bahwa lebih banyak jurnalis dilaporkan diserang oleh petugas penegak hukum saat meliput protes terhadap Undang-Undang Penciptaan Kerja yang sangat kontroversial pada hari Kamis. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) melaporkan pada hari Jumat setidaknya tujuh jurnalis
diserang oleh petugas polisi saat meliput protes di Jakarta. Namun, jumlahnya bisa meningkat karena organisasi belum melihat setiap laporan. "Meski sebagian besar wartawan mengenakan atribut untuk memisahkan diri dari pengunjuk rasa, mereka tetap menjadi sasaran polisi," kata Ketua AJI Jakarta Asnil
Bambani dalam sebuah pernyataan, Jumat. Di antara tujuh jurnalis itu adalah Tohirin CNNIndonesia.com, yang mengatakan bahwa dia dipukul di kepala dan dipukuli oleh seorang petugas polisi saat melaporkan penangkapan beberapa pengunjuk rasa di Harmoni, Jakarta Pusat. Menurut Tohirin, petugas tersebut telah
menanyakan apakah dia merekam penangkapan itu di ponselnya, yang dijawab Tohirin tidak. Namun, petugas tersebut tidak mempercayainya dan menyita ponselnya. Ketika mereka menemukan foto petugas lain yang sedang mencekik seorang pengunjuk rasa, petugas tersebut menghancurkan telepon ke tanah. AGENDOMINO“
Saya diinterogasi dan dibentak. Mereka juga memukul kepala saya, tapi untungnya saya memakai helm saat itu, ”kata Tohirin, seraya menambahkan bahwa ia telah menunjukkan kartu identitas pers dan seragamnya kepada petugas. Peter Rotti dari Suara.com juga diduga dipukul oleh polisi setelah merekam
video petugas yang diduga menyerang pengunjuk rasa di dekat halte bus. Sementara itu, jurnalis merahputih.com Ponco Sulaksono dikabarkan hilang setelah meliput aksi unjuk rasa di dekat Monumen
Nasional (Monas) pada Kamis malam. Beberapa jurnalis pers mahasiswa juga dilaporkan ditangkap oleh polisi dan dibawa ke Mabes Polri. AJI Jakarta melaporkan pada Jumat malam bahwa polisi telah membebaskan semua jurnalis yang ditangkap selama protes.







0 comments:
Post a Comment