Seputardalamberita:LSM Yayasan Syamsi Dhuha (SDF) yang berbasis di Bandung di Jawa Barat telah meluncurkan tongkat jalan pintar yang disebut BriCane untuk tunanetra untuk membantu mobilitas mereka. Tongkat itu terhubung ke aplikasi yang dapat memperingatkan pengguna ketika mereka tersesat, kata kepala SDF
Dian Syarief. Dian yang memiliki low vision sendiri mengatakan, BriCane dikembangkan dari model yang menjuarai lomba desain alat untuk tunanetra pada tahun 2017. Perbaikan pada tongkat dilakukan oleh Hardtmann Mekatroniske, kelompok alumni Institut Bandung. Teknologi (ITB), dengan bantuan
desain produk ITB dan program studi biomedis. Secara fisik, BriCane tidak jauh berbeda dari tongkat biasa yang dibuat untuk orang tunanetra. Namun, tongkat memiliki kotak di dekat tangan pengguna yang berisi perangkat yang terhubung ke aplikasi. “Inovasi dari BriCane adalah kemampuannya untuk
membantu pengguna saat mereka mengalami disorientasi,” kata Dian. BriCane juga memiliki sensor suara dan gerak yang akan membuat pengguna waspada ketika mereka berisiko tersandung sesuatu. Apalagi di bagian bawah tongkat terdapat penyangga yang akan membantu pengguna naik turun tangga atau tanjakan. Dian mengatakan BriCane bisa menjadi alternatif tongkat pintar impor, yang harganya masing-
masing sekitar Rp 9 juta (US $ 612). “Lebih terjangkau karena 60-70 persen lebih murah dibanding produk impor,” ujarnya. Peluncuran tongkat pintar tersebut merupakan bagian dari upaya membantu para tunanetra tetap aktif dan produktif, kata Dian, seraya menambahkan selain pengadaan bantuan, pelatihan
keterampilan dan deteksi dini untuk masalah penglihatan juga dapat membantu mencegah kerusakan penglihatan lebih lanjut. SDF, sebuah organisasi nirlaba yang berfokus pada low vision, juga mengoperasikan Low Vision Center di Bandung yang diluncurkan pada tahun 2016 dengan tujuan menjadi AGENDOMINO
lembaga yang mendukung penelitian untuk pengembangan dan modifikasi alat low vision. Pusat ini juga memfasilitasi tunanetra untuk berinteraksi dan berkreasi, kata manajer SDF Laila Panchasari. Menurut Badan Internasional untuk Pencegahan Kebutaan (IAPB), 43 juta orang di seluruh dunia saat ini menderita
kebutaan dan 295 juta orang memiliki penglihatan rendah, yang sebagian besar tinggal di negara berkembang. Di Indonesia, 3,7 juta orang buta dan 10,8 juta menderita low vision.







0 comments:
Post a Comment