Friday, August 14, 2020

Badan konservasi menggagalkan penyelundupan burung dan reptil Maluku yang dilindungi


Seputardalamberita:Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Maluku telah menggagalkan upaya perdagangan ilegal yang melibatkan burung dan reptil yang berasal dari Kepulauan Maluku.Satwa yang dilindungi tersebut disita di tiga wilayah yaitu Sumatera Utara, Jakarta dan Jawa Timur.

Diantaranya adalah 25 kakatua Maluku - spesies rentan endemik Pulau Seram, tiga kakatua putih yang terancam punah endemik hutan hujan tropis Indonesia, dua kakatua hampir terancam punah dari Kepulauan Tanimbar, 16 ekor merah, satu ekor burung lori bersayap hitam, lima ekor burung berkicau dan empat ekor kakatua. perkici kelapa.

Satwa yang ditangkap juga termasuk 42 ekor kadal lidah biru dan 27 ekor kadal Amboina sailfin dari Pulau Ambon, kata pejabat BKSDA Maluku Meity Pattipawae, Rabu.

Lebih lanjut Meity menjelaskan, semua hewan selundupan itu telah dipulangkan ke Maluku dengan menggunakan dua maskapai penerbangan komersial dan akan dilepasliarkan ke alam liar.AGENDOMINO

Hewan yang dianggap sehat itu akan segera dilepasliarkan di Cagar Alam Gunung Sahuwai Kabupaten Seram Barat dan Taman Nasional Manusela Kabupaten Maluku Tengah. fasilitas di Ambon dan Pulau Seram sebelum dilepaskan.

Kepala BKSDA Maluku Danny H. Pattipellohy mengungkapkan bahwa ratusan hewan tersebut akan dijual dengan harga hingga Rp 5 juta (US $ 337) per hewan.

AGENPOKER

Dari informasi yang kami terima, kakatua dijual dengan harga Rp 500.000 hingga Rp 800.000 di Maluku, tapi saat diperdagangkan di Jawa harganya bisa melambung hingga Rp 5 juta,” ujarnya.

Kantor BKSDA di seluruh Indonesia, kata dia, akan meningkatkan upaya untuk menghentikan perdagangan ilegal tersebut.

Indra Exploitasia, direktur konservasi keanekaragaman hayati Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, secara terpisah telah berkomitmen untuk melindungi hewan yang rentan terhadap perburuan dan menggagalkan setiap upaya untuk memperdagangkannya di pasar ilegal "demi menjaga keseimbangan ekosistem mereka.

0 comments:

Post a Comment